Pages

Wednesday, 5 October 2011

CINTA SEORANG MANUSIA AGUNG

Kita cinta kepada Allah, kerana kita tahu Allah itu ada, walaupun kita tidak melihat-Nya, tidak mendengar-Nya. Kita cinta kepada Rasulullah s.a.w, walaupun kita tidak pernah melihat baginda, menyentuh baginda, mendengar ajaran baginda, dan bukankah ini makna seagung-agung cinta?


Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.

Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.
“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.
Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.
Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.
Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.


APAKAH CINTAKU SEHEBAT MANUSIA YANG AGUNG INI??
APAKAH PENGORBANAN YANG TELAH AKU BUAT UNTUK MANUSIA INI??
LAYAKKAH AKU MENGAKU SEBAGAI UMMATNYA??
MASIH ADAKAH RUANG UNTUK MEMBUKTIKAN KECINTAANKU??

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : Aku tinggalkan kamu kepada dua perkara dimana jika kamu berpegang kepada keduanya, kamu tidak akan sesat selamanya, iaitu kitab Allah dan sunnah nabi-Nya.
(Malik,t.th :502)

Betapa mulianya Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW selama hidup beliau selalu mengajarkan kebaikan amal soleh dan menganjurkan umatnya selalu untuk ingat kepada Allah SWT. Disaat ajal maut menjemput, beliau masih memikirkan umatnya.
Kenapa Saat ini banyak umat nya yang lupa akan ajaran nya
.
Kenapa…!!!
Apakah kita ini sebagai umat nya tidak takut akan seksa Api Neraka…
Bertaubat lah kita semua, mulailah menuju jalan kebenaran yaitu:
JALAN MENUJU SYURGA ALLAH SWT.


Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : Hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ Al-Rashidin. Gigitlah sunnah dengan taring, jauhilah daripada mengada-adakan sesuatu, sebab perkara yang diadakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat dalam neraka
(masuk neraka). (Rw.Ahmad dll)

Ya Rasulullah…betapa kami rindu padamu…

Alam berpesta saat kelahiran insan agung,
Makhluk terbaik yang disebut Tuhan
di lembaran hikmah.

Dia merintis kemurnian hidup
mencantas jahil
yang mencemar kudus jiwa.

Dia menafaskan jiwa kerdil
yang tenggelam saban waktu
pada fatamorgana dunia.

Dia mungkin buta pada takrif aksara,
rencam pada baris huruf
Namun pada jiwa dan minda
khalis dan pokta
dalam suluhan nubuwwah
gelandang ummah
dipimpin berhikmah,

Ya Rasulallah,

Kau persis nur bulan bintang penghias malam
Pada sebuah perjuangan
kau kental menanggung taufan fitnah
yang tidak pernah khali,
Meski lewat cabaran dan tohmah
kau langkah dengan berhemah.

Kau layarkan bahtera adil dan jujur
yang diandal jiwa-jiwa sani
lewat keberkatan mukjizat
dan tarbiah Ilahiyyah,
Biar ribuan suda menghalang sabil
Kau cantas dengan pedang sabar dan cekal

Mereka akui kau insan pilihan
Namun bejat nafsu menghalang atma dari akur,

Biarlah pawana jahil itu berterbangan
Biarkan badai nafsu itu menghempas,
Kau tekal dengan misi,
Merentas gendala buta dan terjal
dengan iman dan hikmah Ilahi,
Garisah perit dan dukamu itu bagai rasa si penagih metia
menjumpai sahmura di mahligai impian.

Dari langit lazuardi cerah ke mega senja,
Kau tamsilan sebuah meditasi hidup
ilham perjuangan mujahid,
figura sanubari
Tiada kata yang terungkap dengan sahsiah dan budi,
Tiada nilai dan matra yang terukur dengan halus bicara,
Hanya terukir stanza dhaif
daripada seorang insan fakir
dalam zikir fikir
kalangan ummahmu yang litir

Demi ummah,
Kau rasai perit jasmani,
Kau lalui sayatan rohani,
Kau lontarkan mewah berahi,
Kau jauhkan manikam duniawi.

Pengorbananmu menjadi inspirasi,
Semangatmu mengalir di setiap sendi dan nadi,
Perjuanganmu nalar mengakar ilusi,
Kau terus hidup menyubur hati.

Wahai Rasulullah,
Kaulah perwira diri dan bukti cinta sejati,
Lantaran sayangmu pada ummah mengatasi kejerihan,
Sehingga pada akhir zaman usia
kekal meniti di bibirmu yang mulia...
"Ummati... ummati... ummati..."

MASIH ADAKAH PENGHARAPAN UNTUKKU???


Lihatlah kehidupan kita dari perspektif Akhirat, kerana apabila musibah dan dugaan datang menimpa, kita akan sentiasa berasa kehidupan ini sangat luas, lapang, penuh harapan, dan penyerahan sepenuhnya kepada Rabb, dengan ungkapan yang selalu disebut-sebut, "Cukuplah Allah bagi kami, dan kepada-Mu ya Allah, sebaik-baik tempat diserahkan urusan."

Walaupun tidak melakukan kesalahan, tapi kita mesti sentiasa berasa bahawa diri tidak pernah sunyi dari melakukan kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan ialah dia mengaku kesalahannya, bertaubat dan tidak henti mengharap keampunan dari-Nya. Seburuk-buruk orang yang melakukan kesalahan ialah dia tidak mengaku kesalahannya, takbur dan sering mencipta alasan.


Dikala malam sunyi sepi
Bani insan tenggelam dalam mimpi
Musafir yang malang ini pergi membasuh diri
Untuk mengadap mu oh tuhan

Lemah lutut ku berdiri
Di hadapan mu tangisanku keharuan
Hamba yang lemah serta hina
Engkau terima jua mendekati
Bersimpuh dibawah duli kebesaran-Mu

Tuhan hamba belum pasti
Bagaimana penerimaanmu
Dikala mendengar pengaduanku
Ku yakin kau tak mungkiri
Dalam wahyu yang Kau nuzulkan
Kau berjanji menerima pengaduanku

Dan Kau berjanji sudi mengampunkan ku
Dari segala dosa yangku lakukan

Ampunan mu tuhan
Lebih besar dari kesalahan insan
Hamba yakin pada keampunanmu tuhan
Bukan tidak redha dengan ujian
Cuma hendak mengadu pada mu
Tempat hamba kembali nanti di sana


 Sabda Rasulullah s.a.w :
"Orang yang bijak adalah orang yang memuhasabah diri sendiri dan beramal untuk sesudah kematian dan orang yang lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya kemudian berangan-angan (mengharap rahmat) pada Allah." (Riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah) 


Aku tahu, aku bukanlah insan hebat yang boleh menjadi contoh untuk semua orang, atau aku boleh menjadi ikutan atau insan dikagumi, tetapi aku memilih jalan ini kerana ihsan, kerana cintaku dan kerana Tuhanku. Dan aku yakin, mereka yang memilih jalan ini adalah kerana cinta mereka. Kerana hati yang didamba rindu dek cinta yang menyala-nyala. Demi cinta yang merumba.


“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal soleh bahawa akan menjadikan mereka khalifah di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah, dan akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhai bagi mereka, dan akan menukarkan ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka menyembah Aku dan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun. Barangsiapa yang kufur selepas itu, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (An-Nur : 55)


Awas! Allah memerhatimu, dan Akhirat di depanmu!

Saturday, 24 September 2011

MUKMIN BERKORBAN, MENGAKAR IKHLAS, MENUNJANG CINTA

Mari kita bersama mengimbau kembali  betapa syiar korban terasa hidup dan kisah Nabi Allah Ibrahim dan anaknya Ismail begitu akrab di hati...
Korban bukan cerita binatang apa, bukan cerita berapa banyak haiwan yang perlu dikorbankan, atau cerita sup dan rendang, tetapi korban adalah cerita tentang kualiti. Kualiti yang dimaksudkan adalah ketaqwaan kepada Allah s.w.t dan keikhlasan dalam melakukan ibadah. Ibadah Korban adalah puncak kepada segala ibadah seperti yang digambarkan dalam kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail a.s. Kita maklum bagaimana Nabi Ibrahim diarahkan oleh Allah untuk menyembelih Ismail dan setelah Nabi Ibrahim memberitahu perihal itu kepada anaknya, maka Nabi Ismail lekas-lekas memberi pengukuhan agar Ibrahim melaksanakan suruhan itu tanpa gentar dan ragu (rujuk surah al-Saafat : 102-107).

Betapa dalam kisah itu kita disuguhkan dengan pengertian taqwa melalui pengukuhan Tauhid dalam jiwa Nabi Ibrahim dan Ismail. Bagaimana mereka menurut perintah tanpa rasa gentar dan ragu. Amatlah penting untuk kita menjadi Mukmin Tauhidik, iaitu penolakan sepenuhnya dari bertuhankan hawa nafsu atau diri sendiri, penolakan mutlak dari bertuhankan darah dan keturunan, dan penolakan sepenuhnya inilah yang akan membentuk rasa cinta yang tulus kepada-Nya, tanpa syarat.

Sejarah telah membuktikan bahawa manusia yang bertuhankan nafsu, bertuhankan darah dan keturunan menjadi punca segala kerosakan dan kemungkaran di atas muka bumi. Firaun dan Qarun dua manusia yang bertuhankan nafsu, hidup bergelumangkan harta benda dan pangkat, akhirnya jatuh tersungkur dalam azab Allah s.w.t.

Pengorbanan itu Cinta

Cuba lihat dengan mata hati siapa yang telah banyak berkorban untuk kita selama ini. Tarik nafas dan himbau kembali diri kita sebelum kita diciptakan. Kita tidak wujud, tetapi Dialah yang telah menciptakan kita kepada wujud. Dialah yang meminjamkan roh, dan segala macam nikmat kepada kita sehinggalah apa yang kita miliki pada hari ini. Namun, berapa ramai yang kufur kepada-Nya, dan begitu ramai pula orang Islam yang tidak bersyukur. Firman Allah s.w.t :

"Mengapa kamu kufur dengan Allah, pada hal kamu dahulunya mati (tiada), lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan, kemudian dihidupkan kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya." (al-Baqarah : 28)

Kemudian, cuba kita imbas semula sejarah sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Di sanalah dua orang insan yang selalu berkorban segalanya untuk kita, tanpa mahu walaupun seekor semut kecil menjalar dan menggigit tubuh kita yang kerdil. Dua insan yang menjadi asbab kepada kewujudan kita pada hari ini, merekalah yang bernama ibu dan ayah. Segala pengorbanan mereka tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata atau apa-apa sahaja bentuk materi, dan sesungguhnya mereka tidak pula meminta untuk dibalas, kerana tentulah itu semua telah memberi gambaran tentang makna sebenar sebuah cinta.

Hitunglah berapa ramai insan-insan yang banyak berkorban untuk kita, supaya kita tekal mendoakan mereka dalam kebaikan. Dan teruskanlah berkorban untuk insan-insan yang kita sayangi pula, dan jangan lupa lakukan pengorbanan dengan rasa cinta. Pengorbanan yang lahir atas dasar cinta akan menyebabkan kita seolah-olah tidak berasa kehilangan apa-apa pun di atas pengorbanan itu, malah rasa bahagia, puas dan ria akan muncul dalam kalbu melihat kegembiraan orang lain. Dalam usaha menggapai bintang, jangan dilupakan orang-orang di sekeliling yang telah banyak berkorban untuk kita. Saya terpikat dengan kata-kata ahli falsafah Albert Schweitzer ini - in the hopes of reaching the moon men fail to see the flowers that blossom at their feet.

Ikhlas kerana Allah

Songsonglah hatimu agar selalu bermuhasabah tentang ikhlas. Keikhlasan itu pentadbirnya adalah hati, maka pastikanlah hatimu selalu bersih dengan ilmu dan ibadah yang sahih. Hanya kita yang dapat menilai dan menghitung hati sendiri. Hitunglah hati sebelum ia dihitung di hadapan Allah s.w.t kelak.

Apabila pengorbanan dipacak berpaksikan kebergantungan terus kepada Allah, maka di situlah akan hadirnya kekuatan sabar menghadapi, dan munculkan keadaan redha dalam hati. Oleh itu, hadapkan dan hadirkan hati terus kepada Allah atas segala apa yang ingin dilakukan, barulah amalan itu akan dinilai sebagai suatu ibadah. Insya-Allah, segala pengorbanan yang dilakukan akan dinilai sebagai kebajikan di sisi-Nya.

Pastikan pula setelah melakukan sekian banyak pengorbanan itu, jangan pula mengeluh jika terpaksa mengulangi pengorbanan demi pengorbanan yang sama, agar tidak pula sia-sia segala kesusahan dan perit jerih dek keluhan dan omelan. Tahan kekeluhan dalam hati, ubati hati bahawa inilah kebajikan untuk Akhirat, dan bekerja untuk Akhirat balasannya tidak segera, hanya perlu percaya, kerana percaya itulah iman.

Selamat menjadi Mukmin yang berkorban, menyempurnakan makna "kualiti", kerana tiada ibadah tanpa keikhlasan dan tiada kualiti tanpa ketaqwaan.

Pengorbanan itu akarnya ikhlas, tunjangnya cinta. 




Sunday, 18 September 2011

HAKIKATNYA KITA TIDAK PERNAH TERPISAH

 Apabila dua orang ditakdirkan bertemu, pasti perpisahan akan kunjung tiba dan menerjah ruang yang sering diisi dengan riang tawa, senda gurau dan tangis hiba, saat akrab bersama.

Apabila semua orang berkata bahawa perpisahan itu lumrah, maka ini bermakna bahawa perpisahan itu pasti dan setiap kita mesti akan mengalami perpisahan. Sama ada perpisahan sementara yang boleh mengundang pertemuan semula, atau pun perpisahan selamanya dengan nama kematian. Namun, perpisahan tetap menjadi pasti kerana kita semua tentu akan merasai mati.



"Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati, dan bahawasanya pada hari kiamat sahajalah akan disempurnakan balasan kamu." (Ali Imran : 185)

Apabila berpisah, kita sering membicarakan tentang sakit dan peritnya rasa orang yang ditinggalkan, tetapi jarang benar kita mendalami tentang sakit dan peritnya orang yang meninggalkan. Kadang-kadang orang yang meninggalkan itu lebih perit dari yang ditinggalkan. Namun, anggaplah perpisahan yang terjadi sebagai tarbiah dan memenuhi maksud hijrah, ke arah kemajuan dan perubahan yang lebih baik. Insya-Allah.

Menguji keteguhan hati

Sesungguhnya makna perpisahan itu hakikatnya mengakrabkan, kerana melalui perpisahan itu kita akan sentiasa belajar menghargai. Kehilangan sesuatu menerjah akal supaya kita sentiasa ingat dan menghargai saat sesuatu itu ada di sisi. Apabila kita kehilangan kunci misalnya, ketika kita sangat memerlukannya, barulah kita sedar tentang kepentingan dan kebergantungan kita terhadapnya. Namun, bukanlah kita sedar tentang kepentingan jasad kunci itu semata-mata, tetapi kita celik tentang kepentingan kegunaan kunci itu sebagai asbab keselamatan barang-barang kita.

Sepertimana kita mempunyai ibu, ayah, isteri, suami, sahabat handai dan seluruh kenalan, bukanlah ketika mereka tiada, ingatan kita hanya tertumpu kepada jasad mereka sahaja, tetapi lebih terarah kepada kasih sayang yang tumpah, tanggungjawab dan amanah yang tertunai, budi yang ditabur dan segalanya itu bersatu menyuguhkan kenangan yang sukar dilupakan, lantas menimbulkan sebak di dada.

Ya, perpisahan itu hakikatnya menguji keteguhan hati, mencelikkan akal, dan apabila bertemu, kita akan lebih menghargai, lantas perhubungan menjadi lebih akrab.

Cuma perpisahan jasad

Apabila berlaku perpisahan cuba jawab persoalan ini - apakah kita hanya menyayangi dia kerana jasadnya sahaja?

Sudah tentu jawapannya tidak, kerana mengasihi jasad semata-mata sangat khilaf dengan makna cinta yang sejati. Jika hanya jasadnya sahaja yang kita kasihi, maka kita perlu sama-sama kembali untuk koreksi makna cinta kita kepadanya. Kita sering sahaja melihat pergaduhan, penceraian, dendam dan iri yang berlaku dalam kalangan ummah kerana kebanyakan kita belum betul-betul faham dan kenal dengan makna cinta dan ukhuwwah, yang sebenar-benarnya perlu dibatasi dalam mandala "kerana Allah". Jika hanya jasad yang rapat, tetapi hati jauh terpisah, kita sebenarnya berada dalam pembohongan.

Kita cinta kepada Allah, kerana kita tahu Allah itu ada, walaupun kita tidak melihat-Nya, tidak mendengar-Nya. Kita cinta kepada Rasulullah s.a.w, walaupun kita tidak pernah melihat baginda, menyentuh baginda, mendengar ajaran baginda, dan bukankah ini makna seagung-agung cinta?

"Katakanlah (wahai Muhammad) : Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai; (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab seksa-Nya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka)." (At-Taubah : 24)

Apabila perpisahan menjadi lumrah, bukankah itu menunjukkan bahawa kita hanya hamba yang lemah dan sentiasa bergantung. Kita sentiasa berfikir bahawa apa yang kita miliki itu hanya sementara dan hakikatnya tiada yang menjadi milik kita. Malah, diri kita sendiri adalah milik-Nya. Tiada yang kekal, melainkan hanya Allah.

Lantas fikiran diterjah dengan sifat dunia, yang sementara cuma. Sifat dunia yang fana dan tidak kekal. Sifat dunia yang tiada harga, melainkan cuma main-main. Sifat dunia yang wasilah, buat menyemai bekal manfaat untuk Akhirat.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah, antara tujuh golongan manusia yang akan diberi perlindungan oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan melainkan perlindungan-Nya, antaranya ialah; dua orang yang saling mengasihi kerana Allah, iaitu keduanya berkumpul dan berpisah kerana Allah.

Justeru, hakikat dua orang bersaudara yang bertemu dan berpisah kerana Allah itu tidak pernah berpisah, kerana hatinya sering terikat dalam kasih sayang, sentiasa terpaut pada bakti dan budi, selalu tersimpul pada tanggungjawab dan amanah. Sentiasa ingat pada makna ukhuwwah dan persahabatan.

Ingatan pada jasad, jasad akan lebur dan musnah. Ingatan pada minda, minda itu selalu lupa dan leka. Maka ingatkanlah pada hati, kerana hati itu ibarat tanah yang subur, yang perlu dibenihkan dengan niat kerana Allah, pahit manis ukhuwwah dalam zikir dan fikir. Walaupun jasad terpisah, tetapi hati tetap berpaut.

Ya, bukankah dua orang yang berpisah kerana Allah itu, hakikatnya mereka tidak pernah berpisah? 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...