Pages

Tuesday, 20 December 2011

EKSPLORASI


Menurut Imam Hasan Al-Basri, dunia ini hanya ada tiga hari. Hari kelmarin yang sudah berlalu dan kita tidak mampu lagi untuk mengubahnya. Hari esok, adalah misteri yang kita tidak tahu apakah kita akan masih memiliki kesempatan berada di dalamnya. Dan hari ini, kesempatan untuk kita melakukan amal soleh.

Benarlah bahawa kita perlu mendepani hari ini. Kita perlu menghadapi sekarang yang kita lalui dalam hidup ini. Yang lalu biarkan berlalu. Maka kita gunakan kesempatan dan peluang yang ada pada hari ini untuk kita menjadi lebih baik. Masa yang terbaik ialah di sini dan sekarang, bukan masa hadapan yang masih belum tentu dan pasti.

Telusuri maknawi menjejak hakiki
Amanah suci khalifah di bumi
Jelajahi duniawi menuju ukhrawi
Amalan murni mengadap Ilahi

Eksplorasi diri membaca zahiri
Menyingkap realiti yang tersembunyi
Eksplorasi hati mengungkai nubari
Cerminan peribadi bias tulus budi

bertemu berpadu dalam di dalam restu
Berkias bermadah dalam santun ilmu
Berpautkan iman tenteram aman
Bersandarkan rahmat sentosa selamat

Bukan mudah melukis pelangi di langit yang tertinggi
Tanpa hadir gerimis dan sinar mentari
Yang mengiringi

Bukan mudah memiliki mutiara kasih
Tanpa diselami lubuk hati nurani
Ke dasar rasa yang paling dalam

video

Hari ini dan sekarang adalah perkara yang kita hadapi dan boleh kita usahakan, jadikan hari ini adalah milik kita, untuk kita gunakan sepenuhnya dengan kebaikan. Berfungsilah sebagai pekerja, ibu, bapa dan anak yang cemerlang, dan ikhlaskan niat sungguh-sungguh kerana-Nya, supaya segala apa yang kita usahakan bakal dinilai sebagai sebaik-baik amalan di sisi-Nya, insya-Allah.


Dunia adalah suatu peluang untuk kita menuai secukup-cukupnya amal kebaikan dan menyemai rasa cinta kepada-Nya dengan sepenuh hati. Dunia itu tiada jaminan untuk sesiapa, penuh ancaman di sana-sini, penuh risiko, kecuali orang yang tenang hatinya dalam rahmat Allah, redha dengan ketentuan dan percaya bahawa apa sahaja yang berlaku kepadanya adalah yang terbaik daripada Tuhan Yang Maha Tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya.


No longer forward nor behind
I look in hope and fear; 
But grateful take the good i find,
 
The best of now and here.


Monday, 12 December 2011

MUNGKINKAH BAGI KU.....



Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi fikiran sekaligus menterjermahkan dengan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintailah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, kerana cinta juga dapat membuat orang sihat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencintai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang isterinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. 

Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justeru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezeki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.

Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki soleh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum solehah.
Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..

Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang soleh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.

Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri peribadi belum bisa menjadi contoh teladan.

Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, kerana disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sedar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.


Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan iaitu:

1) Iman yang kuat

2) Ikhlas dalam beramal

3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keredhaan-Nya.

SIAPAKAH KITA?

Siapakah kita?


Soalan ini adalah soalan yang wajib kita kemukakan setiap hari kepada diri. Percaya atau tidak, jika kita benar-benar amati, konsisten dan fokus, soalan ini akan terus menusuk ke hati dan membangkitkan perasaan rendah diri dan sentiasa tawaduk dalam segala perkara.


Soalan ini barangkali adalah soalan biasa, soalan yang sangat biasa ditanya guru-guru semasa di sekolah rendah dahulu. Soalan yang mudah dan senang dijawab. Namun, sekiranya soalan ini dijawab dengan betul, tepat dan berwibawa mengikut tahap pemikiran masing-masing, maka kita akan mampu untuk melakukan tranformasi dengan baik.


Tranformasi apa? Tranformasi yang dimaksudkan ialah pemikiran untuk kita sentiasa mahu lebik baik daripada semalam. Pemikiran untuk kita sentiasa inginkan terbaik dalam setiap perkara yang kita lakukan. Transformasi yang melahirkan kualiti dan kemenangan. Bukankah yang terbaik itu tuntutan Tuhan?


Siapakah kita?


Bukankah kita adalah makhluk terbaik ciptaan Tuhan yang dikurniakan akal fikiran dan kewarasan menimbang dan menilai? Tuhan telah cipta kita begitu dengan segumpal daging yang sentiasa mempengaruhi wacana dan tingkah. Rasulullah telah mengingatkan tentang kepentingan segumpal daging ini, yang sentiasa perlu digilap dan dibentuk ke arah kemakrufan dan kebaikan. Allah telah memberi amaran tentang segumpal daging ini, yang mampu menghumban kita ke neraka Allah dengan azab yang pedih.


“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepada manusia (melalui akal dan Rasul) akan jalan-jalan (yang benar dan yang salah; maka terserahlah kepadanya) sama ada ia hendak bersyukur (dengan beriman dan taat) atau ia berlaku kufur dengan mengingkari kebenaran dan menderhaka).” (al-Insan : 3)


Tuhan telah meletakkan kita sebagai khalifah di atas muka bumi, menunjang kepemimpinan Islam dan membawa risalah tauhid ke seluruh alam. Dengan mengetahui bahawa kita adalah pemegang risalah tauhid dan ingin menyampaikan kepada manusia seluruhnya tentang cinta kepada Khalik, maka nescaya segala kasad dan tingkah, akan selari dengan ciri khalifah yang telah Allah tetapkan kepada kita sejak azali lagi.


Namun, jangan sesekali lupa bahawa, kita terjadi daripada air mani yang tiada erti. Kita dijadikan daripada tanah dan akan kembali kepada tanah yang dipijak-pijak dengan amalan dan bekalan masing-masing. Melalui peringatan dan soalan ini, kita akan sentiasa sedar di mana kita berpijak dan tahu siapa kita walau di kedudukan mana kita berada, meski di martabat mana kita berada. Tuhan telah mengingatkan bahawa dunia ini hanya mainan dan tiada apa-apa, hanya sebagai ladang untuk kita bertanaman dan berbajaan mencari keredaan-Nya di negeri yang tiada akhirnya.


“Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan mainan dan berseronok-seronok, dan hari akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak memikirkannya?” (al-An’aam : 32)


Siapakah kita?


Nah, bukankah dengan sentiasa bertanyakan soalan ini kepada diri kita akan membentuk perilaku yang hebat tetapi sentiasa berhemah? Soalan ini akan membentuk minda optimis dan aktif tetapi dengan jiwa yang lapang dan sentiasa menghormati pandangan orang lain. Soalan ini akan membina jiwa yang interaktif dan bermatlamat jauh tetapi dengan sikap merendah diri dan sentiasa tawaduk.


Bukankah bertanyakan soalan ini dan bermuhasabah adalah sesuatu yang mudah?


“Allah mengingini bagi kamu kemudahan dan Dia tidak mengingini bagi kamu kesusahan.” (al-Baqarah : 185)


Justeru, mari kita sama-sama mewujudkan koreksi dan bertanya diri – siapakah kita?

Wednesday, 7 December 2011

KITA HANYA SETITIS AIR

Samudera ini adalah ciptaan terus dari Allah. Luas dan dalam. Indah dan mendamaikan.


Entah kenapa, ombak dan pantai yang bertepukan walaupun riuh, tetap tidak membingitkan telinga, atau meresahkan hati, malah sebaliknya yang kita rasa.


Aman, damai dan tenang menebar dalam hati.


Walaupun samudera ini telah menggemparkan dunia dengan tsunami, atau ribut, atau serangan jerung dan obor-obor tetapi manusia tetap tidak putus mahu mengunjunginya, terutama sebagai destinasi wisata keluarga dan keraian tertentu.


Ya, kita seperti mempunyai hubungan dengan samudera, perlu sentiasa ingin ber'komunikasi' dengan pantai.


Kita memerlukan air kerana tanah memerlukannya


Sejarah dan tamadun manusia juga telah membuktikan bahawa manusia sentiasa memerlukan air, maka Allah telah menjadikan sungai-sungai sebagai sumber air yang bersih untuk manusia.
Sungai-sungai yang akhirnya sampai juga ke laut.


Air yang diperlukan untuk minum sekurang-kurangnya lapan hingga sepuluh gelas setiap hari untuk sihat.


Air untuk bersuci dan membasuh segala macam bentuk kekotoran.


Air penting untuk makanan kita, kerana dalam makanan tersebut juga masih ada unsur air.


Malah tubuh kita juga terdiri dari 55 sampai 78 peratus air bergantung kepada bentuk dan ukuran jasad.


Asal-usul kita dijadikan dari tanah kemudian melalui 'air' bapa.


Kita memerlukan air kerana tanah memerlukannya.


Bukan sahaja kita, malah seluruh hidupan memerlukan air.


Apabila kita dan seluruh hidupan memerlukan air, justeru kita adalah lemah dan sangat perlu kepada Pencipta air.


Allah s.w.t!


Kita adalah setitis air


Pada hamparan lautan yang luas itu, kita hanyalah setitis darinya.


Ambillah setitis dari air laut lalu kita pisahkan air yang setitis itu dari sehamparan samudera.


Adakah akan terjejas luas dan dalamnya?


Saya dan kita geleng.


Siapa pun kita, bagaimana hebat pun kita, sebijak dan sepandai mana pun kita, walau bagaimana besar pun kejayaan yang kita kecapi hari ini.


Kita hanyalah setitis air. Setitis air yang tidak menjejaskan langsung kekuasaan dan keperkasaan-Nya. Setitis air yang tidak bermakna dari seluas-luas lautan.


Setitis air yang tiada erti.


Melainkan jika kita takut pada-Nya, berhukum dan beramal dengan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, redha dengan pemberian-Nya walaupun sedikit, dan bersedia (ilmu, iman dan amal) untuk mengadap-Nya di Hari Pembalasan.
Bertaqwalah, walau di mana kita berada.


Taqwa, dan kita akan dipandang oleh-Nya.

Saturday, 19 November 2011

AYAT-AYAT MUHASABAH CINTA



DUHAI HATI...


Dunia yang seperti pelangi, sementara mengindahkan, dan akan pergi.


Aku mendoakan kalian dengan kebaikan dan keelokan dalam segala tingkah dan kata. Dan aku di sini, hari ini, sangat rasa rendah dan hina. Aku hari ini, melihat hujan seperti meluruhkan tombak-tombak berbisa menerjah ke batang tubuh. Aku hari ini, melihat mentari seperti memancarkan jarum-jarum halus melalui sinarnya. Aku hari ini, seperti melihat bulan gerhana dalam tangis dan tawa.




Dan cinta masih begitu, tenang mendamba.


Aku di sini, masih begini, sentiasa ingin memberi kebaikan dan manfaat kepada orang lain, sentiasa ingin mencari rezeki, wang dan harta, yang dalam ruang pencarian itu, sering terleka dan tersadung. Dan barangkali, sukar untuk memberikan kefahaman kepada semua orang tentang itu, tentang rasa, tentang kasih sayang, tentang amanah dan tanggungjawab, tentang ilmu dan tentang pandangan yang Esa.


Dan cinta terus begitu, tenang memuji.


Dan orang juga tidak tahu, betapa kadang-kadang aku terasa diri sedang berpura-pura di hadapan Tuhan, menjadi manusia hipokrit yang pura-pura tidak sedar tentang kebenaran. Dan Tuhan telah berkali-kali memberikan hidayah, tapi alpa dan leka sering mengunci riak dan tingkah. Betapa diri lemah dan hina di sisi-Nya sebagai hamba. Betapa diri ini sering melaungkan kemaafan kepada orang lain dan mendamba maghfirah-Nya sentiasa.


Dan cinta kini dirongrong rindu, akrab.


Betapa pedihnya hati apabila hakku dirampas, dan cuma sedikit terasa kepedihan itu apabila melihat hak orang lain dijarah. Dan sehingga kini aku masih belum mampu menjawab - apakah ini makna kasih yang dituntut Tuhan? Betapa selama ini aku telah lama menyedari, segala apa yang di sekelilingku hanya pinjaman dan tiada suatu pun yang menjadi hak mutlak diriku. Tangan, kaki, mata, telinga dan seluruh anggota adalah pinjaman Tuhan kepadaku. Dan soalan ini sering tidak dapat kujawab - apakah aku mampu membayar kembali pinjaman ini kepada-Nya?


Dan cinta kekal begitu, tenang menanti.


Apalah dayaku, ini adalah soal hati. Yang susah untuk dimengerti dan membuat orang lain mengerti. Ini soal hati, yang bukan mudah berbusa menjadi istimewa, ceria dan menduga. Tuhan, hari ini aku ingin mencapai cintaku, cinta-Mu melalui pinjaman ini. Dan andai aku ditakdirkan mati, aku ingin mati dalam senyum rindu, dalam dakapan cinta-Mu.


Teman, bukankah ceritaku ini, adalah ceritamu jua?


Dan cinta terus subur sendiri, 
kerana cinta itu bagiku adalah mati.
 

Wednesday, 9 November 2011

HAKIKAT SEBUAH LANDASAN

Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian , Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kebenaran. [103:1-3]

Tiada yang terindah dalam hidup ini jika kita benar-benar berada dalam kesyumulan Islam.

Keindahan yang membahagiakan itu tentulah apabila kita berada sepenuhnya dalam cara hidup Islam melalui semua sistem kehidupan, tanpa dipisah-pisah dan dijuzuk-juzukkan.

Matlamat hidupmu

Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah dan beribadat kepadaKu. [51:56]

APAKAH YANG TELAH KITA LAKUKAN PADA HARI INI DAN SAAT INI????
APAKAH SEBENARNYA HAKIKAT HIDUP INI???
APAKAH KITA MASIH RAGU-RAGU AKAN KEBENARAN???

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayat-ayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah] dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakan untuk mendengar [ayat-ayat Allah]. Mereka itu seperti binatang ternakan, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." ~ Al-A'raaf : 179.

Allah SWT dalam ayat ini menghuraikan tentang perkara yang menyebabkan terjerumusnya manusia ke dalam kesesatan. Allah menjelaskan ramai manusia menjadi isi neraka Jahannam, begitu juga mereka yang masuk syurga sesuai dengan amalan masing-masing.

Firman Allah:

"Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." [Hud : 105]

Firman Allah lagi :

"Segolongan masuk syurga dan segolongan masuk neraka." [Asy-Syura : 7]

Kebanyakan manusia itu diazab di neraka Jahannam disebabkan akal dan perasaan mereka tidak digunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah SWT sedangkan kepercayaan itulah yang akan membersihkan jiwa mereka dari segala macam was-was dan kehinaan serta kerendahan. Kepercayaan inilah yang akan menanam keyakinan kepada diri mereka sendiri, dan menjadi benchmark kepada keutuhan peribadi dan sahsiah.

Kita juga melihat sekalian manusia yang mengaku beriman, tetapi sebenarnya lalai dan lupa dengan kepercayaan sepenuhnya pada hari Akhirat. Mereka hanya menggunakan akal untuk menanam saham dunia tanpa sedikit pun membaja benih akhirat dalam setiap perbuatan dan pekerjaan.

"Mereka hanya mengetahui yang zahir [saja] dari kehidupan dunia, sedang tentang [kehidupan] akhirat adalah lalai." [Ar Rum : 7]

Mereka tidak memahami bahawa tujuan hidup sebenar manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya dan melaburkan saham Akhirat sebanyak mungkin sebagai persediaan. Mereka tidak mengetahui bahawa tujuan Allah memerintahkan mereka menjauhi kemaksiatan dan dosa serta mendorong melakukan amal adalah untuk dua kebahagiaan - dunia dan akhirat. Mereka membutakan hati dan mata, memekakkan telinga dengan segala macam kebaikan dan petunjuk yang datang kepada mereka.

Firman Allah :

"Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka kerana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh keseksaan, yang dahulu mereka sering memperolok-olokkannya."[Al-Ahqaf : 26]

Mereka tidak dapat memanfaatkan mata, telinga dan akal sehingga mensia-siakan hidayah Allah. Keadaan mereka seperti binatang bahkan lebih buruk daripada binatang, kerana binatang tidak mempunyai akal dan upaya fikir untuk mengolah kesan penglihatan dan pendengaran mereka. Binatang hanya mewujudkan persepsi atau reaksi terhadap dunia luar secara naluri dan bertujuan hanyalah untuk meneruskan hidup [survival]. Betapa hinanya manusia yang menjadi seperti binatang ini dan menjadi hamba kepada hawa nafsu, malah mereka lebih rendah nilai kerana tidak mampu menggunakan kelebihan akal dan hati.

Sempurnanya kita...
Segala kesulitan dan khilaf pasti ada penyelesaiannya...
Dan setiap kegembiraan itu membawa kepada kebahagiaan..,
TAPI bersyukurkah kita wahai hamba Allah???
Bersyukurkah kita???
Adakah kita ingat pada NYA???
video

Orang yang mengerjakan sesuatu untuk dunia hasilnya nampak, cepat dan boleh dikecapi hasilnya serta merta, tetapi orang yang mengerjakan sesuatu untuk Akhirat, hasilnya tidak nampak, lambat, tetapi dia hanya percaya dalam cinta. Dan percaya dalam cinta itulah iman.

Abdul Rahman bin Auf antara sahabat baginda s.a.w yang kaya dan telah menginfaqkan seluruh kekayaannya fisabilillah pada permulaan Islam. Dia seorang peniaga yang pintar memiliki harta yang banyak ketika di Madinah. Beliau merupakan antara sahabat nabi yang paling awal memeluk Islam dan salah seorang daripada sepuluh sahabat al-Mubasshirina bil Jannah.

Dia menangis suatu ketika, kemudian ditanya kenapa dia menangis, dan dia membandingkan dirinya dengan para sahabat yang syahid terlebih dahulu seperti Mus'ab bin Umair, yang dahulunya seorang anak yang disayangi ibunya, pakaiannya cantik dan mahal, baunya sentiasa harum semerbak dengan minyak wangi, tetapi dia meninggalkan segalanya itu demi Islam. Mus'ab meninggal dunia dalam keadaan tidak cukup kain untuk menutupi jenazahnya. Begitu juga dia membandingkan dirinya dengan Asadullah Saidina Hamzah, seorang pahlawan yang lebih mulia daripadanya, dan juga tidak cukup kain kafan saat kembalinya ke pangkuan Allah.

Dia bimbang jika dia termasuk di antara orang-orang yang dipercepatkan untuk menikmati kebahagiaan di dunia, lalu akan tersisih daripada para sahabat dan Rasulullah di Akhirat disebabkan kekayaan. Walaupun dia merupakan salah seorang para sahabat yang telah dijanjikan syurga oleh baginda s.a.w. Ketika dia bersedekah, dia menangis kerana mengingatkan Rasulullah s.a.w yang tidak pernah kenyang dengan roti dan gandum.

Kebimbangan dan keimanan seperti Abdul Rahman bin Auf inilah yang perlu ada dalam jiwa mereka yang ingin menjadi kaya. Tanpa menafikan sumbangan umat Islam yang memiliki jiwa seperti sahabat Rasulullah yang agung ini, tapi sekadar memberikan tazkirah, supaya kita sentiasa menjadikan dunia itu di tangan bukan di hati, menjadikan dunia dan segalanya itu hanya alat untuk menyemai benih-benih manfaat, menuju Akhirat sebagai matlamat. 

Penyesalan itu hakikatnya merupakan pintu kepada sebuah hidayah.Dambakan dan abdikanlah diri kepada yang berhak.Sesungguhnya keampunan Allah itu sangatlah luas kepada hambaNYA.

Hidup adalah anugerah

Kita sebagai umat Islam perlu percaya bahawa hidup ini adalah anugerah. Kita dipilih menerima anugerah yang bernama kehidupan. Anugerah pinjaman yang sebentar dan perlu dimanfaatkan sepenuhnya untuk agama-Nya. Hidup untuk kita terus menebar manfaat dan kebaikan, bukan sahaja untuk diri sendiri malah kepada orang lain.



Apabila kita faham bahawa hidup ini adalah suatu bentuk anugerah yang dipinjamkan, maka kita akan sentiasa yakin bahawa pada bila-bila masa anugerah ini akan diambil semula. Bukanlah bermakna apabila kita redha bahawa ketetapan ini adalah milik Allah dan Allah Maha Mengetahui rahsianya, maka kita menolak usaha, doa dan tawakkal.

Benar, kita perlu sentiasa berusaha menjadi Muslim yang baik, taat suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya dalam doa dan tawakkal.
Apabila musibah datang menimpa, tragedi yang tidak diingini terjadi dengan tiba-tiba, maka laluilah dengan sabar, kerana sabar akan memupuk rasional, lantas akal akan menerjemah ketetapan Tuhan sebagai suatu kebaikan. Kita diuji sedemikian kerana Allah Maha Tahu, bahawa kita mampu menghadapinya.

"Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau imannya lemah dia diuji dengan itu (ringan) dan bila imannya kukuh dia diuji sesuai itu (keras). Seseorang diuji terus menerus sehingga ia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa."
(Riwayat Bukhari)
 
Susurilah hari-hari kita walau hati diipuk sedih, kerana itu fitrah manusia. Namun, zahirkan senyuman dan selitkan di hati di celah-celah kesedihan itu rasa bangga dan syukur, kerana kita sebenarnya telah dipilih Allah untuk menerima kebaikan.

"Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka ia diuji (dengan musibah yang menimpanya)."
 (Riwayat Bukhari)


Berdoalah, supaya Allah akan mengurniakan kita kebaikan di dunia, kebahagiaan di Akhirat dan Dia pasti akan mengabulkan, meskipun bukan seperti yang kita mahukan. Dia pasti akan mengabulkan, atas kehendak-Nya, kerana sesungguhnya Dia Maha Mengetahui yang terbaik buat kita, hamba-hamba-Nya. 

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahawa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permintaan orang yang berdoa apabila dia bermohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al-Baqarah : 186)

Tiadalah lebih bermakna bagi seorang manusia dan hamba di sisi Allah, melainkan menjulang kejayaan di Akhirat kelak. Untuk berjaya di Akhirat, maka segalanya bermula semasa di dunia. Dan untuk berjaya, kita perlu selalu berubah, tingkatkan diri dengan adab dan akhlak.
Tidakkah mereka mengetahui bahawa Allah Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya, dan juga menerima sedekah-sedekah (dan zakat serta membalasnya), dan bahawa sesungguhnya Allah Dialah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...